Senin, 12 November 2018
Ritual Panggil Ikan Terbang (Ikan Sako) : Kearifan Lokal Penduduk Kampung Wari Biak Papua
Gambaran Umum :
Secara geografis Kampung Wari terletak pada utara pesisir pulau Biak tepatnya di teluk Waromi dipisahkan oleh sungai Wari yang mengalir dari perbukitan roidifu di bagian selatan ke utara hingga bermuara di teluk Waromi yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. Kampung Wari adalah bagian dari wlayah administrative Distrik Biak Utara yang terletak di Utara Kabupaten Biak Numfor. Secara astronomis Kampung Wari berada pada 00’51’47’ LU dan 136’ 0,2’ 13,9” BT. Luas Kampung Wari secara keseluruhan 297,57ha atau seluas 2,97km2 yang meliputi dusun 1 217,48ha dan dusun 2 80,09ha. (Distrik Biak Utara dalam Angka, 2016).
Matapencaharian Hidup penduduk kampung Wari adalah berladang dan menangkap ikan, hal ini terjadi karena belum ada spesialisasi pekerjaan yang dilakukan. Mereka membuka ladang dengan menanam ubi – ubian (keladi), talas dan jenis sayuran untuk pemenuhan pangan keluarga dengan memanfaatkan lahan disekitar kampung. Selain itu mereka juga melakukan aktifitas menangkap ikan. Perahu bercadik dengan ukuran lebih kecil (waipapa), nilon, kail dan jaring menjadi perlengkapan utama sebagai nelayan. Di massa lalu mereka memiliki teknik menangkap ikan dengan metode meracuni memanfaatkan jenis tanaman tertentu akar tuba (adur rares) dan buah rabon (mbai). Teknik ini dilakukan saat air surut (wampasi) hal ini karena pasang surut air laut akan menyebabkan air tergenang dan membentuk semacam kolam – kolam kecil yang membuat ikan terjebak disana pada kolam tersebut akar tuba atau buah rabon ditumbuk serta diperas dan disebarkan setelah 1 – 2 jam kemudian ikan – ikan akan mati lemas dan siap di panen.
Pengetahuan penting lainnya yang dimiliki oleh penduduk di kampung Wari adalah ritual memanggil jenis ikan tertentu atau ritual panggil ikan terbang atau ikan sako, ritual ini dilakukan secara turun – temurun oleh leluhur mereka hingga saat ini. Hal – hal yang perlu dipersiapkan dan syarat – syarat melakukan ritual adalah sebagai berikut.
Pertama : Menyiapkan jala atau keranjang ikan yang dijahit menggunakan akar pohon tikar. Akar pohon tikar biasanya dipilih yang sudah tumbuh mencapai tanah hal ini karena kwalitas serat yang akan dipakai lebih kuat.
Kedua : Akar pohon tikar diambil dibersihkan kemudian bagian dalamnya berupa serat putih, dijemur dipanas matahari atau di asap. setelah itu dianyam menggunakan jarum jahit yang dibuat dari bamboo bulu sedemikian rupa dipakai untuk menjahit jala atau keranjang ikan. Pemberat biasanya menggunakan kulit kerang berukuran besar diikat sebagai pemberat. Selain jala atau keranjang ikan perlengkapan lain yang perlu disiapkan yaitu : daun kelapa & tuak (sagueru kelapa).
Ketiga : ritual ini memerlukan kerjasama sehingga dilakukan oleh 2 orang dengan syarat masing – masing orang memiliki tanggung jawab dan mengetahui apa yang dikerjakan dan setiap orang mengerjakannya tanpa bersuara hanya menggunakan bahasa isyarat dikarenakan sebagai pantangan yang harus dipatuhi.
Keempat : setelah semua perlengkapan berupa : Jala, daun kelapa, tuak (sagueru kelapa) sudah disiapkan diletakan di perahu maka, mereka berdua akan mendayung kelaut ke tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Mereka secara perlahan – lahan menurunkan jala kedalam air, mengikat tali ke cadik perahu dengan simpul yang sudah diharuskan sebagaimana sayaratnya. bagian atas jala/keranjang terdapat semacam lubang, melalui lubang tersebut daun kelapa dimasukan sampai melewati bagian bawah jala. Kemudian tuak (sagueru kelapa) disiram. Hal ini dilakukan karena menurut kepercayaan bahwan ikan terbang (Ikan Sako) akan mencium bau saugueru kemudian mereka berkumpul di dalam jala atau keranjang dengan kata lain Ikan itu dikasih mabuk.
Setelah itu mereka akan memanggil ikan tersebut dengan menyebut nama ikan dalam (bahasa Biak) sambil menarik daun kelapa naik – turun sambil menyiramnya dengan tuak (sagueru kelapa). Pada beberapa saat kemudian ikan – ikan tersebut akan datang dan masuk kedalam jala atau keranjang serta siap untuk dipanen.
Beberapa syarat atau pantangan adalah : Pertama : Larangan konsumsi dengan cara direbus hanya boleh di bakar atau digoreng. Kedua : Setiap hasil yang diperoleh dari ritual ini harus dibagikan ke seluruh warga Kampung. Ketiga : Orang yang akan melakukan ritual ketika itu tidak boleh memiliki masalah atau melakukan masalah baik di keluarganya atau dengan sesama anggota kerabat lainnya karena dipercaya akan membawah sial degan kata lain harus benar – benar melakukannya dengan hati yang bersih. Pada saat ini ritual tersebut sudah jarang dilakukan karena beberapa factor yaitu : pada massa lalu beberapa warga telah melakukan kesalahan dengan melanggar pantangannya antara lain : Ikan tersebut di konsumsi dengan cara direbus, pendapat lain mengatakan factor perubahan musim yang tidak menentu sehingga sekalipun dilakukan hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan yang pernah diperoleh dimassa lalu.
Factor penting lainnya adalah : pengaruh Gereja atau injil telah merubah pandangan hidup masyarakat sebagai pemilik dan pendukung kebudayaan tersebut mengalami pergeseran nilai mengakibatkan hal – hal yang berhubungan dengan ritual dan kepercayaan tradisional semacam itu lambat laun ditinggalkan.
catatan :
1. Kritik dan saran membangun sangat diharapkan untuk memperkaya tulisan ini
2. Beberap ungkapan dalam ritual yang diucapkan dalam bahasa lokal (bahasa Biak) masih menjadi sesuatu yang tabuh untuk diceritakan kepada pihak luar.
3. Bentuk – bentuk kearifan lokal semacam ini seharusnya penting untuk dilestarikan karena merupakan bagian dari konservasi tradisional yang berperan dalam memanfaatkan SDA secara lestari dan berkelanjutan.
4. Ini membuktikan bahwa Papua tidak hanya kaya akan SDA, tetapi Sumber Daya Manusia yang tersimpan dalam pengetahuan lokal di masyarakatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Ritual Panggil Ikan Terbang (Ikan Sako) : Kearifan Lokal Penduduk Kampung Wari Biak Papua
Gambaran Umum : Secara geografis Kampung Wari terletak pada utara pesisir pulau Biak tepatnya di teluk Waromi dipisahkan oleh sungai Wari y...
-
Ritual Arfai : Penanganan Serangan Hama Ulat Bulu Pada Tanaman Keladi – Talas Di Ladang Secara Tradisional Gambaran Umum : Kampung Wouna ...