Sabtu, 25 Agustus 2018

PEREMPUAN DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI KAWASAN SUAKA MARGA SATWA MAMBERAMO FOJA

PEREMPUAN DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI KAWASAN SUAKA MARGA SATWA MAMBERAMO FOJA : Oleh Aser M Rumboirusi Abstrak (Mengenal Kawasan Suaka Marga Satwa Mamberammo Foja) SM Mamberamo Foja merupakan salah satu kawasan konservasi dari 17 kawasan konservasi di Papua. Luas SM Mamberamo Foja adalah 2. 018,000 ha atau 45, 46 % dari luas total kawasan konservasi di Papua, ini merupakan luas kawasan SM terluas di Indonesia. SM Mamberamo Foja di tetapkan berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor : 782/Kpts/UM/10/1982 tanggal 21 Oktober 1982. Tercatat ada 11 kabupaten yang berada didalam kawasan SM Mamberamo Foja. Sungai Mamberamo ini terdapat disekitar Komplek pegunungan Foja-Gautier yang belum terjamah dan merupakan pegunungan tertinggi di daerah ini (2.193 m dpl) yang membentuk bagian tengah dari Suaka Margasatwa Mamberamo Foja. Daerah aliran sungai (DAS) Mamberamo merupakan suatu bentangan alam yang menyerupai cekungan besar dibatasi oleh dinding patahan dengan lereng terjal. Sungai utama adalah sungai Mamberamo yang dibentuk oleh dua anak sungai yaitu : sungai Tariku (Indenburg) dan sungai Taritatu (Roffaer). Mengalir dari arah selatan menuju ke arah utara dan bermuara di samudera pasifik. Spesies floa dan fauna terdiri dari sekitar 332 jenis spesies burung seperti : kasuari, kakatua, namdur dewata, nuri, taon – taon, cenderawasih dan maleo. Buaya mamberamo terdiri dari buaya muara yang banyak hidup di sungai, telaga – telaga dan di laut dekat muara. Katak unik berhidung pinokio, (litoria, sp nov), kupu – kupu hitam – putih, kelelawar kembang baru (Syconyteris sp nov), tikus pohon kecil (pogonomys, sp nov),semak belukar berbunga (ardisia hymernadohides) walabi kecil (dorkopsulus spnov), pergam atau merpati kaisar yang ditemukan di pegunungan Foja. Panjang sungai mencapai ± 870km dan luas 175 – 800m(data dari berbagai sumber)* . Sungai Mamberamo dihuni oleh 9 kelompok suku, menyebar pada 21 Kampung dengan total penduduk ± 9.601 jiwa. (sumber : hasil study Yali – Papua)*. PENGANTAR Wilayah yang kaya dengan sumber daya alam baik keberagaman hayati maupun non hayati, ini telah menghidupi penduduk Mamberamo selama berpuluh generasi terutama melalui pemanfaatan dan pengelolahan tanah, hutan dan air. Secara turun temurun perempuan Mamberamo memperoleh manfaat dari sumber daya alam, tanah, hutan dan air untuk keberlangsungan diri, keluarga dan komunitasnya. Kehidupan yang dekat dengan alam membuat mereka memiliki pengetahuan serta kemampuan pengelolaan tanah, hutan dan air yang khas berdasarkan pengalaman dan kesepakatan social dalam masyarakat asal mereka. Dalam konteks pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA), perempuan Mamberamo tidak hanya memiliki identitas sebagai ibu rumah tangga dan istri tetapi, mereka juga adalah petani, nelayan, ataupun pengusaha pengumpul hasil hutan yang dengan kegiatannya telah menghasilkan pendapatan untuk keberlanjutan kehidupan diri dan keluarganya. Namun sayangnya peran perempuan dalam pengelolaan SDA sering terlupakan dan tidak mendapat perhatian. Hal ini terlihat pada program – program pembangunan dan kebijakan – kebijakan yang belum mengakomodir peran perempuan dalam pengelolaan SDA, misalnya belum dilibatkannya perempuan secara maksimal dalam proses pengambilan keputusan yang berdampak pada hilangnya ruang sumber mata pencahariaan perempuan dalam pengelolaan SDA. Sementara itu sebagian besar penduduk ini menghuni wilayah – wilah disepanjang sungai dengan karasteristik mata pencaharian subsistence dalam sector pertanian, perikanan tangkap, berburu, mengumpulkan hasil di alam, dan mengolah sagu. Para perempuan Mamberamo dalam komunitas lokal kerapkali diposisikan sebagai penyedia pangan oleh peran gender tradisional, mereka juga sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak dan mengurus rumah tangga. Laki – laki kerapkali dipandang sebagai pencari nafkah utama (jika ada pekerjaan) dan umumnya mereka memainkan peran utama dalam pengambilan keputusan mengenai sumber daya alam. Perempuan Mamberamo biasa bercocok tanam, menangkap ikan disungai, menokok sagu, mengumpulkan kerang, kepiting, udang, mereka meramu berbagai bahan makanan di hutan atau kombinasi keduanya. Mereka bahkan terlibat dalam pemenuhan kebutuhan dasar dan kegiatan ekonomi yang lebih luas. Menyediakan makanan bagi keluarga dan menambah uang tambahan dari hasil kebun, perikanan tangkap,hasil kerang dan kepiting maupun hasil meramu dihutan. Peran mereka juga memastikan keberlanjutan kehidupan keluarga. Pembagian peran dan tanggung jawab yang sangat bervariasi ini seringkali cair dan terus berkembang diantara laki – laki dan perempuan, tidak selalu mengisyaratkan ketidak adilan gender. Misalnya dalam proses berladang laki – laki menyiapkan lahan, perempuan menanam, merawat, dan distribusi hasil panen. Laki – laki menggunakan kapak dan parang untuk menebang pohon saat buka ladang, perempuan menggunakan kapak dan parang untuk menyediakan kayu bakar. Perempuan tidak terlibat dalam pengambilan keputusan tentang control atas tanah dan sumber daya alam dimana didominasi oleh laki – laki yang dilatarbelakangi oleh budaya dan norma – norma yang berlaku di masyarakat. Hal ini berarti peran perempuan terhadap keberlanjutan kehidupan komunitas diremehkan atau diabaikan. Ketika tanah dan sumberdaya alam milik komunitas diambil alih untuk produksi komersil akibatnya perempuan bisa bernasib lebih buruk dari laki – laki. Peran domestic perempuan dalam keseharian mengharuskan perempuan bersentuhan dengan sumber daya alam dan hutan. Mengingat pentingnya peran yang dimilikinya secara turun temurun dalam pengelolaan sumber daya alam, maka menjadi sangat penting untuk melibatkan perempuan dalam proses perencanaan dan pengelolaan wilayah terutama yang menyangkut pengelolaan SDA. “ Mamberamo Dalam Prespektif Gender Dan Pengelolaan Sumber Daya Alam” A. PERAN PEREMPUAN MAMBERAMO SEBAGAI SUMBER KEHIDUPAN DALAM MENCIPTAKAN KETAHANAN KELUARGA. Ketahanan keluarga yang dimaksud disini adalah kondisi dinamis suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguan secara fisik material, pisikis, mental spiritual dan hidup mandiri dengan keluarganya serta harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga. Perempuan dalam keluarga adalah sosok unik yang bukan secara kodrat mampu mengandung dan melahirkan, tetapi juga dengan ikhlas menjaga, memelihara melindungi dan memberi kasih sayang kepada anka – anak, menjadi teman bermain dan bercanda. Dengan penuh rasa cinta, seorang perempuan akan menghibur anaknya jika sedih dan merasa putus asa. Perempuan menjadi tulang punggung keluarga dengan semua aktifitas mereka dalam kehidupan kesehariannya. Mereka memiliki tanggung jawab yang boleh dikatakan hampir sempurna, mengurus suami dan anak – anak, mengurus pekerjaan dapur, berladang, mengumpulkan kayu bakar, menimba air, meanangkap ikan, menokok sagu, mengumpulkan bahan makanan dari hutan. Mereka juga terlibat dalam perekonomian keluarga dengan membawah hasil yang dapat dijual ke pasar seperti pinang, sayuran serta hasil buruan. Rendahnya tingkat pendidikan dan buta huruf pada perempuan hampir disemua kampung – kampung disepanjang sungai Mamberamo menjadi factor penting membuat mereka berada dalam siklus hidup seperti itu selain factor social budaya yang menempatkan perempuan pada posisi yang terabaikan, system nilai budaya seperti (perkawinan poligami) dengan system tukar mengharuskan perempuan wajib memiliki anak atau memberi keturunan kepada laki – laki. Secara adat laki - laki dibolehkan memiliki istri lebih dari satu bahkan ada yang memiliki 3 – 4 istri. Pertama : dalam keagamaan perempuan menjadi contoh bagi anak – anak, ketekunan ibu dalam beribadah, berperilaku baik, akan membawah pengaruh sangat besar kepada anak – anak mereka. Kedua : dalam pelaksanaan cinta kasih ibu adalah pelopor utama dalam kehidupan sehari – hari dengan memberi kasih sayang dan perlindungan kepada anak. Ketiga : Fungsi sosialisasi dan pendidikan secara kearifan lokal menempatkan perempuan sebagai actor utama karena setiap aktivitas yang dilakukan oleh perempuan biasanya dilakukan bersama anak – anak mereka, seperti berladang, menokok sagu, mengumpulkan kayu bakar, menimba air, memasak, menyiapkan pangan keluarga, memelihara dan merawat anak. Kegiatan ini telah menjadi rutinitas perempuan yang secara tidak langsung menjadi pembelajaran bagi anak – anak mereka dikemudian hari. Keempat : Peran perempuan dalam mengambil keputusan untuk mengurus dan mengatur urusan rumah tangga, belanja kebutuhan dasar, mengganti perabot rumah tangga, pakaian, kebutuhan air bersih makan, minum, menyiapkan pangan untuk keluarga, mengumpulkan kayu bakar, perempuan memilih, mengambil, menyimpan kebutuhan keluarga, dan menjalankannya akan ditiru oleh anak – anak mereka. Seorang ibu yang memiliki kebiasaan baik akan ditirukan oleh anak – anaknya. B. Ruang Kelola Perempuan Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam. Ruang kelola perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam sangaat berkaitan erat dengan peran dan posisi, serta hak – hak adat mereka dalam komunitas. Masyarakat pedesaan di Indonesia telah memiliki system dan sturktur pengeloaan sumberdaya alam mereka sendiri sebelum Negara Indonesia ini terbentuk. Dalam kegiatan pertanian perempuan lebih sering mengambil peran dalam pertanian subsitence/domestic yang dilkukan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sehingga mereka memiliki pengetahuan yang luas untuk spesies – spesies tanaman pangan lokal, sedangkan laki – laki lebih banyak peran disaat kegiatan pertanian yang dikomersilkan. Ketimpangan muncul kala kegiatan komersil pertanian yang menghasilkan pendapatan uang lebih dihargai dibandingkan kegiatan pertanian subsistence yang lebih banyak dikelolah oleh kelompok perempuan demikian juga dengan akses dan control perempuan terhadap pengelolaan sumber daya alam yang lebih lemah di banding laki - laki C. Peran Ganda Peran ganda adalah peran lebih yang dijalankan dalam waktu yang bersamaan sebagai istri, ibu bagi anak – anak. Pemenuhan kebutuhan pangan anak – anak, ekonomi keluarga. Peran Domestik : 1. Peran Sebagai Ibu Perempuan secara kodrat memiliki peran reproduksi yaitu : melahirkan, menyusui, mengasuh, memelihara anak serta sebagai istri memiliki tanggung jawab untuk melayani suami tetapi harus memperhatikan anak – anak menyiapkan makan pagi seperti : rebus/bakar pisang, bakar sagu, angkut air dari sungai untuk kebutuhan masak dan minum, menyiapkan makan malam dan melayani suami. 2. Tenaga Kerja Produktif Perempuan pada peran domestic areanya sperti : menangkap ikan, mengumpulkan kayu bakar, menimbah air disungai, menokok sagu, berladang, mengumpulkan hasil alam, menjual hasil seperti pinang dan sayuran ke pasar di Ibu Kota Kabupaten (Kasonaweja) telah menjadi rutinitas perempuan di Mamberamo. Mereka juga terlibat aktif dalam kegiatan – kegiatan kerja buruh pikul bahan bangunan (material) apabila dibutuhkan dalam proses – proses pembangunan di Kampung. 3. Pilar Ketahanan Pangan Usaha untuk mewujudkan ketahanan pangan pada tingkat keluarga telah dilakukan secara baik oleh perempuan di Mamberamo namun beberapa factor sangat mempengharui yaitu : rendahnya pendidikan dan ketrampilan perempuan menjadikan mereka terbatas dalam pemilihan, pengelolaan serta pengetahuan nilai gizi untuk pemenuhan pangan dalam keluarga. hal ini terlihat dari jenis dan pola makan serta dampak kesehatan terhadap keluarga secara khusus anak – anak. Table 2 Pola Dan Jenis Makanan Dikonsumsi No Waktu Jenis Makanan Pengelolaan 1 Pagi Pisang + sagu Rebus, bakar 2 Siang Pisang + sayur Rebus, bakar 3 Malam Pisang, Papeda + ikan + sayuran(Paku – Pakuan dan Gedi) rebus Pola makan : pemilihan, pengelolaan serta pengetahuan gizi dan pola makan menjadi factor kunci dari rendahnya gizi pada Ibu dan anak, namun demikian perlunya penelitian secara spesifik mengenai kandungan gizi dari jenis makanan yang dikonsumsi sehingga dapat diketahui nilai gizi yang terkandung didalamnya. Table ini berfungsi untuk memberi gambaran tetang apa yang dikonsumsi, waktu konsumsi serta cara pengelolaannya. Pola makan ini terjadi berdasarkan efisiensi ketersediaan kebutuhan dasar rumah tangga, ketersediaan pangan, pengetahuan perempuan dalam mengelolah hasil makanan serta pengetahuan tentang nilai gizi. Dari pola makan diatas terlihat bahwa jenis makanan yang dikonsumsi tiap keluarga lebih bervariasi terjadi pada malam hari yaitu : pisang, papeda, ikan dan sayuran. Hal ini terjadi karena kebutuhan pangan tambahan seperti sayuran dan ikan terpenuhi dengan aktifitas yang dilakukan di siang hari seperti : meramu sayuran di hutan : (paku – pakuan, jamur, genemo atau mengambil hasil kebun : daun pepaya, petatas, singkong, gedi). Kegiatan menangkap ikan disungai menjadi rutinitas perempuan untuk hidangan pelengkap. Hasil ini diolah untuk dikonsumsi keluarga di malam hari. Sagu dan pisang menjadi sumber karbonhidrat utama selain beras yang diperoleh apabila mereka memiliki cukup uang. 4. Perempuan Dan Pendidikan Pendidikan menjadi kebutuhan dasar bagi manusia. Baik pendidikan formal dan nonformal, kebutuhan pendidikan anak tidak hanya mencakup pendidikan yang diberikan orang tua tetapi juga pendidikan formal. Jika dapat terpenuhi maka itu merupakan suatu keberhasilan keluarga. Perempuan menjadi actor penting dalam pendidikan anak misalnya perempuan menyiapkan dan memastikan anaknya ke sekolah, saat melanjutkan ke tingkat pertama SMP, SMA di Ibu Kota Kabupaten. Perempuan sebagai seorang ibu memainkan peran penting dalam pendidikan anak – anak mereka dengan memenuhi kebutuhan mereka. orang tua biasanya pergi menetap bersama anaknya di pusat – pusat kabupaten untuk menyekolahkan anak atau mereka akan mengumpulkan hasil makanan seperti sagu, pisang dan ikan untuk di bawah ke Ibu Kota Kabupaten tempat dimana anak – anak mereka tinggal dan bersekolah. 5. Perempuan Dan Kesehatan Pelayanan kesehatan : Minimnya pelayanan kesehatan seperti (Posyandu) disebabkan petugas kesehatan yang tidak menetap di Kampung. Mengakibatkan perempuan harus mengambil resiko dengan melakukan perawatan secara tradisional : apabila anak – anak mereka terserang penyakit seperti : malaria yang biasanya diawali dengan panas tinggi untuk mengatasinya dilakukan pengobatan tradisional (Isap Darah) atau tiup badan dengan menggunakan daun Gomo/sukun hutan atau daun Gatal, jika tidak terjadi perubahan maka, dibawah ke rumah sakit umum di Kasonaweja. Jenis penyakit yang umum diderita adalah : Malaria, Kurang Gizi, Anemia (Ibu hamil dan Menyusui), Diare, Penyakit Kulit dan Kaki Gajah. Rendahnya Kesadaran Kesehatan : Perempuan tidak menyadari pentingnya gizi selama kehamilan dan melahirkan, terbatas dalam pengetahuan tentang gizi, perilaku hidup sehat yang tidak tepat, rendahnya kesadaran kesehatan reproduksi misalnya : pelayanan saat massa kehamilan serta tingginya kebiasaan merokok bagi perempuan dalam keadaan hamil, pentingnya kesehatan reproduksi perempuan menjadi kendala utama terhadap kesehatan mereka. Dari uraian kondisi kesehatan diatas maka, dapat dibuat table analisa sederhana tentang masalah, potensi dan solusi atau kebutuhan sebagai berikut : Table 3 Identifikasi Dan Analisis Permasalahan Kesehatan No Isu/Permasalahan Strategis Potensi Kebutuhan/Pembangunan 1 Petugas kesehatan tidak menetap Ada posyandu Ada petugas Petugas kesehatan tetap/rutin 2 Obat – obat kurang sehingga pelayanan tidak memadai Ada petugas kesehatan Layanan kesehatan permanen 3  Rendahnya kesadaran ibu hamil, menyusui, pentingnya mendapat vitamin saat hamil dan melahirkan  Pentingnya ASI eklusif dan makanan tambahan bagi bayi.  Petugas kesehatan  Kader Kesehatan  Dukungan Warga Efektifkan pelayanan posyandu 4 Kurang adanya penyuluhan kesehatan sehingga masyarakat belum memahami pentingnya pola hidup sehat Kader Kesehatan Dukungan Warga Penyuluhan kesehatan gizi Ibu dan anak. 5 Pengetahuan terbatas sehingga kader Kesehatan belum menjalankan tugasnya dengan baik Kader Kesehatan Pelatihan Kader Kesehatan D. AKSES PEREMPUAN MAMBERAMO TERHADAP SUMBER DAYA ALAM DAN HUTAN ( Sungai, Kebun, Dusun Sagu Dan Hutan) Perempuan Dan Wilayah Perairan : Perempuan di Mamberamo menangkap ikan dengan alat tangkap jaring dan pancing, mereka bahkan terlihat lebih terampilan dibandingkan laki - laki. Di sungai – sungai kecil saat air surut mereka menangkap ikan dengan cara meracuni ikan dengan jenis tanaman tertentu (akar tuba). Saat air surut sungai – sungai kecil akan membentuk kolam – kolam yang merupakan wadah tempat ikan berlindung. Perempuan – perempuan di Kampung Suaseso dan Kapeso yang tinggal disekitar Danau Rombebay, mereka sangat terampil dalam menggunakan jaring untuk menangkap ikan di danau. Pada pagi hari mereka akan keluar dengan mendayung perahu ke danau untuk menebar jaring yang kemudian akan diperiksa saat siang atau sore hari hal ini telah menjadi rutinitas mereka dalam pemenuhan pangan keluarga, mereka terlibat juga dalam penangkapan buaya saat – saat musim tertentu. Pada bagian hilir sungai Mamberamo yang bermuara ke laut terdapat Kampung Warembori dan Kampung Yoke. Mereka ini hidup dari hasil laut dan memanfaatkan hasil kerang, kepiting, udang yang sangat melimpah dari hutan – hutan mangrove yang sangat luas. Perempuan – perempuan di kedua kampung ini sangat terampil dalam mengelolah pangan lokal yang selalu dipasarkan di pasar tradisional yang dijual dipelabuhan saat kunjungan kapal – kapal yang berlayar di Mamberamo. Perempuan Dan Kebun : Perempuan mengelolah kebun bersama suami menyiapkan lahan seperti : penebangan, pembersihan. Saat melakukan penanaman dan perawatan perempuan lebih aktif dari laki – laki, membuat bedengan menanam jenis sayuran sampai distribusi panen hasil kebun dilakukan oleh perempuan. Aktifitas perempuan dikebun antara lain adalah : Membersihkan kebun, membuat bedengan, menanam jenis sayuran, ubi – ubian, jagung, pepaya, pisang, mengumpulkan kayu bakar serta angkut hasil. Beban pikul jika mereka pulang dari kebun antara lain : 1 ikat kayu bakar, 1 – 5 sisir pisang, sayuran. Wadah yang digunakan terbuat dari karung atau bai, bisanya beban pikul ditambah anak mereka yang masih bayi atau dalam gendongan. Jarak yang ditempuh tergantung letak kebun, rata – rata mereka dapat berjalan ±1 - 2km. Perempuan Dan Dusun Sagu : meramu sagu dilakukan secara berkelompok 3 – 5 orang atau dilakukan oleh (Keluarga inti). Proses menokok sagu dimulai dengan memilih sagu yang telah berisi yaitu : dilihat dari tanda seperti telah berbuah dan mulai gugur. Sagu yang telah ditentukan akan ditebang, dibersihkan, dibuka bagian yang akan dipangkur, membuat atau menyiapkan tempat ramas, menokok sagu, peras sari atau tepung sagu dan angkut hasil. Semua pekerjaan ini rata – rata dikerjakan oleh perempuan. Jarak dan akses sangat mempengahrui waktu dan tenaga kerja, jika lokasi sagu yang diolah berada jauh dari kampung maka, kegiatan menokok sagu dapat dilakukan dengan cara menginap dilokasi dusun sagu dengan membuat mekwar atau pondok. Apabila jarak lokasi sagu itu mudah dijangkau maka, akan dilakukan dengan pola pergi – pulang. Jangka waktu sehari kerja dapat menokok 1 meter batang sagu, hasil yang sudah dipangkur biasanya langsung diperas untuk memperoleh tepung sagu berat isi tepung sagu yang diperoleh dari 1 meter batang sagu yang dipangkur ±20 - 30kg. Hasil tepung sagu ditampung di wadah berupa noken karung atau bai. 20 – 30kg tepung sagu yang dihasilkan dapat dikonsumsi dalam jangka waktu 1 – 2 minggu. Rata – rata 1 pohon sagu berukuran 7 – 8 meter dapat dikerjakan dalam jangka waktu 1 – 2 minggu dengan hasil ±100 kg tepung sagu yang dapat di konsumsi dalam jangka waktu ± sebulan. Perempuan Dan Hutan : Dalam pengelolaan sumber daya alam, masing – masing kelompok masyarakat adat di Indonesia dan di Mamberamo memiliki sistem dan cara – cara tertentu dalam mengakomodir peran, posisi dan hak perempuan. Dalam system dan struktur adat bentuk akses yang berbeda – beda dalam pengelolaan tanah, hutan dan sumber daya lainnya. Satu orang perempuan bisa saja memiliki akses kepada beberapa lahan/dusun berbeda. Misalnya tanah milik sanak - saudara, milik suami. satu orang perempuan juga memiliki identitas yang beragam yang berasal dari satatus perkawinannya, umur, dan factor – factor lain yang mempengahrui posisinya dalam penerapan hak kepemilikian dan pengelolaan hutan pada berbagai tingkatan mulai dari tingkat rumah tangga, marga/kekeluargaan, dan komunitas lebih luas. Demikian juga dengan komunitas yang memiliki wilayah hutan yang dikelolah secara kolektif berdasarkan aturan adat namun tidak memberikan akses kepemilikan tanah secara perorangan kepada perempuan. (BPHKH/2011) menyatakan bahwa pada dasarnya keberadaan masyarakat disekitar hutan sendiri sangat penting, demikian juga dengan komunitas wilayah hutan yang dikelola secara kolektif berdasarkan aturan adat namun tidak memberikan akses kepemilikan tanah secara perorangan kepada perempuan. Misalnya Janda yang menjadi kepala rumah tangga. Contoh Kasus di Kampung Murumere yang terjadi pada Ibu Sara Sawoti seorang janda yang menjadi kepala rumah tangga mendapat hak pengelolaan dari ulayat atau dusun suami, mewarisi kebun – kebun milik suami untuk dikelolah dan dimanfaatkan bagi kelangsungan hidup anak – anaknya sedangkan hak milik tetap berada pada kelompok kerabat marga dari suaminya. Hutan memiliki nilai penting bagi perempuan karena menyimpan banyak potensi seperti meramu jenis sayuran, paku – pakuan, jamur, genemo selain itu pada saat musim tertentu perempuan akan meramu telur ayam hutan. Kesimpulan Dan Saran Kesimpulan Dari hasil uraian diatas maka dapat disimpulkan beberapa hal yaitu : 1. Perempuan memiliki peran secara reproduksi dan produktif Peran Produktif : Ibu rumah tangga atau perempuan yang berperan penting dalam keluarga sebagai unit terkecil dalam kehidupan sebagai istri sekaligus sebagai ibu bagi suami dan anak – anak. Ibu rumah tangga / perempuan memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap segala sesuatu yang ada dalam rumah tangga/area domestic yaitu : merawat anak, memasak, membersihkan rumah, menimbah air, mengumpulkan kayu bakar, menokok sagu, memancing di sungai, berladang serta mengumpulkan hasil di hutan untuk sumber nabati. Perempuan juga berperan aktif dalam ekonomi rumah tangga. Peran Reproduksi : Perempuan secara kodratnya melahirkan, merawat, memlihara dan memberi perhatian dan kasih sayang kepada anak – anak mereka, bahwa dalam kenyataannya mereka memainkan peran ganda tersebut dalam kehidupan keseharian mereka. 2. Perempuan dibatasi secara struktur dan nilai social budaya sehingga tidak memiliki hak dalam membuat dan mengambil keputusan – keputusan yang berhubungan dengan kontrol terhadap sumber daya alam hutan dan tanah serta keputasan strategis lainnya. 3. Perempuan memiliki akses secara nyata bahkan terlihat lebih dominan dari laki – laki pada pemanfaatan sumberdaya alam untuk kebutuhan pangan dan ekonomi yang bersifat subsistance. 4. Berbagai masalah seperti tingginya buta huruf, rendahnya kesehatan ibu dan anak, beban kerja, kekerasan dalam rumah tangga menjadi resiko yang harus ditanggung oleh perempuan. Saran Dari hasil temuan diatas maka dapat disarankan beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu : 1. Pemberantasan buta huruf bagi kelompok perempuan 2. Pelatihan ketrampilan bagi kelompok perempuan 3. Pelayanan gizi Ibu dan anak 4. Pelatihan Kader Kesehatan 5. Mendorong kemandirian perempuan untuk berperan aktif dalam proses – proses kebijakan yang berdampak pada pengelolaan SDA dan hutan di Kawasan Suaka Marga Satwa Mamberamo Foja. Catatan : 1. Tulisan ini merupakan catatan harian penulis selama menjadi tenaga peneliti dan fasilitator di kampung – kampung dampingan Yali – Papua dalam program pengembangan Masyarakat di Kawasan Suaka Marga Satwa Mamberamo Foja. 2. Beberapa kutipan merupakan data – data sekunder yang penulis kutip dari tulisan – tuliisan tentang Peran Perempuan dan SDA 3. Tulisan Ini merupakan artikel biasa bukan tulisan ilmiah sehingga masih jauh dari sempurna namun demikian dapat bermanfaat dan menjadi sumber informasi bagi mereka yang tertarik dengan kehidupan perempuan dan perannya dalam pemanfaatan sumber daya alam di Kawasan Suaka Marga Satwa Mamberamo Foja. “Pengalaman adalah guru terbaik karena, ia memberi anda soal tanpa membritahukan anda cara menyelesaikannya.”

Tidak ada komentar:

Ritual Panggil Ikan Terbang (Ikan Sako) : Kearifan Lokal Penduduk Kampung Wari Biak Papua

Gambaran Umum : Secara geografis Kampung Wari terletak pada utara pesisir pulau Biak tepatnya di teluk Waromi dipisahkan oleh sungai Wari y...