Rabu, 22 Agustus 2018
Pejuang Tanpa Pamrih
Pengantar
Tulisan ini saya buat bukan untuk menyingung pihak manapun bahkan saya sangat mengapresiasikan para pejuang pendidikan yang bersusah payah di wilayah ini.Tulisan ini merupakan keprihatinan saya terhadap kisah sedih tentang kondisi pendidikan di Kampung Marinavalen Distrik Mamberamo Tengah Kabupaten Mamberamo Raya semoga dengan ulasan ini dapat memberikan gambaran tentang situasi pendidikan waktu itu dan dapat membuat pihak -pihak yang bertanggung jawab tidak berkecil hati tetapi dengan hati yang arif dan budipekerti bijaksana kedepan kita semua bertanggung jawab untuk bersama Orang Mamberamo membangun daerah ini ke arah yang lebih baik.
Tulisan ini merupakan catatan harian saya selama menjadi staf di Yayasan Lingkungan Hidup (Yali-Papua) periode 2008-1017.
Gambaran Umum
Kampung Marinavallen merupakan salah satu Kampung di Distrik Mamberamo Tengah Kabupaten Mamberamo Raya. Untuk sampai ke kampung ini melalui jalur sungai. Dari Ibu Kota Kabupaten Kasonaweja menggunakan perahu boat mesin 40pk dapat ditempuh dengan waktu 15menit. Beberapa hal menarik adalah untuk sampai ke Kampung Marinavallen harus melalui derasnya aliran sungai dan arus yang tidak menentu bahkan dikenal oleh masyarakt disana sebagai salah satu tempat berbahaya yang sering menelan korban jiwa,bahkan waktu tertentu seperti musim kemarau atau air sungai Mamberamo surut masyarakat sangat mawas diri untuk melewati jeramnya.
Saya memulai tugas sebagai fasilitator untuk kegiatan pengembangan ekonomi masyarakat melalui program perkebunan kakao,di kampung ini terhitung sejak 2013 - 2017 selama itu banyak hal menarik yang ditemui. Kondisi alam, kehidupan sosial ekonomi dan sebagainnya. Hal utama yang menarik keprihatinan saya adalah mirisnya kondisi pendidikan yang mungkin menjadi potret bagi kondisi pendidikan Mamberamo
Potret Pendidikan
Kondisi pendidikan di kampung Marinavalen sangat menyedihkan sekolah SD INPRES Marinavalen yang sejak dibangun ini terdiri dari 4ruang yaitu: 1ruang guru 3ruang kelas.tiap kelas dibagi 2ruang untuk memenuhi standar belajar mengajar.
Terhitung sejak dibangun telah ditempatkan 1kepala sekolah dan 3tenaga guru, awalnya proses belajar mengajar berjalan dengan cukup baik namun diperkirakan sejak tahun 2013 - 2016 proses belajar mengajar mulai tidak berjalan karena berbagai soal. Saya sendiri dalam hal ini menghindari untuk menghakimi siapa yang salah dan benar, tetapi saya ingin menyampaikan realita yang terjadi disana misalnya : kepala sekolah tidak selalu berada ditempat dan lebih banyak menetap di kota baik di Ibu Kota Kasonaweja, Sarmi maupun Jayapura tanpa tujuan yang jelas. Tenaga guru yang bertugas mulai merasa tidak betah karena ulah kepala sekolah yang konon katanya tidak memberi hak-hak mereka, pengelolan dana Bos yang tidak transparan dan sikap acuh tidak acuh.
Informasi yang diperoleh dari masyarakat bahwa kepala sekolah akan datang ke kampung disaat - saat tertentu yaitu disaat ujian semester dan ujian akhir jadi pada intinya prosea belajar mengajar tidak berjalan namun ujian tetap dilakukan. Sehingga dapat saya simpulkan bahwa hal ini dilakukan sebagai bukti pertanggung jawabannya supaya tetap mendapat hak-haknya sebagai pegawai negeri.
Masyarakat telah memebri laporan namun demikian belum ada tindakan tegas dari atasannya.
Sangat disayangkan aktifitas belajar mengajar sudah lama tidak berjalan hanya tinggal berdiri bangunan fisik yang terpampang menonjol sehingga tampak gedung sekolah terlihat seperti rumah hantu. Pertanyaannya kemana dana-dana guru? apakah ada buaya-buaya rakus yang memakannya?sehingga guru-guru menjadi korban dan anak murid teraniaya.
Lalu bagaimana motivasi membangun manusia Mamberamo melalui pendidikan, para pemimpin di Dinas Pendidikan jarang mengunjungi kampung, tingkat kesulitan para guru tidak diketahui atasannya. Jangankan kebutuhan operasional guru kebutuhan sekolah dan ketersediaan sarana prasarana pendidikan di sekolah saja tidak pernah diketahui akhirnya guru-guru jadi korban murid teraniaya menjadi bodoh.
Penakluk Tanpa Pamrih
Melihat kondisi pendidikan di kampung yang sangat memprihatikan seorang anak muda yang baru selesaikan studinya di tingkat SMA pada tahun 2015. Ia merasa terpanggil karena melihat adik-adiknya yang terlantar Ia termotivasi untuk mengajar secara swadaya dengan memanfaatkan apa yang tersisa yang ditinggalkan para pendidik. Harapannya adalah Ia tidak ingin adik-adiknya dilanda penyakit sosial (buat huruf) minimal apa yang dilakukan dapat membantu adik-adiknya agar dapat membaca,menulis dan berhitung.
Prosea belajar mengajar dilakukan secara sederhana yaitu kelas 1 2&3 dijadikan 1kelompok belajar dengan materi belajar mengenal huruf membaca menulis dan berhitung kelas 3 4&5 dijadikan 1kelompok belajar dengan materi belajar seperti IPA IPS MATE-MATIKA BAHASA INGGRIS dan pengetahuan umum lainnya.
Penulis sendiri berupaya dengan memberi bantuan buku-buku paket sebagai panduan mengajar serta ikut memberi edukasi literasi di luar jam belajar.
Anak - anak yang tidak ikut dalam kelompok belajar biasanya bersama orang tua mereka ke kebun,dusun sagu atau mengahbiskan waktu dengan bermain di sungai.
Perjuangan si anak muda ini pada akhirnya membuahkan hasil yaitu Pertama : 3 orang anak laki-laki dan 1 anak perempuan dapat diikutkan sertakan dalam ujian nasional ditahun 2016 utk melanjutkan ke tingkat Lanjutan (SMP). Kedua : Pergantian Kepala Sekolah dan penempatan kembali guru-guru dan mereka telah aktif mengajar terhitung sejak Agustus 2017. Dengan harapan mereka tidak lagi meningalkan tugas dan tanggung jawabnya.
Harapan penulis pemuda ini dapat diperhatikan oleh Pemerintah setempat untuk disekolahkan ke tingkat lanjutan (Perguruan Tinggi) dan diangkat menjadi PNS. karena anak - anak muda yang memiliki potensi seprti inilah yang dapat menjadi agen pembaharuan di Kampungnya sendiri karena memiliki hati nurani yang tulus tanpa pamrih untuk membangun Kampungnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Ritual Panggil Ikan Terbang (Ikan Sako) : Kearifan Lokal Penduduk Kampung Wari Biak Papua
Gambaran Umum : Secara geografis Kampung Wari terletak pada utara pesisir pulau Biak tepatnya di teluk Waromi dipisahkan oleh sungai Wari y...
-
Ritual Arfai : Penanganan Serangan Hama Ulat Bulu Pada Tanaman Keladi – Talas Di Ladang Secara Tradisional Gambaran Umum : Kampung Wouna ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar